Angry Birds
Welcome!!

Senin, 13 Oktober 2014

PROSES DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN


 

  PEMBAHASAN
PROSES DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN
Tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan, dan berkesinambungan dimulai sejak pembuahan sampai dewasa. Walaupun terdapat variasi, namun setiap anak akan melewati suatu pola tertentu. Tanuwijaya (2003) memaparkan tentang tahapan tumbuh kembang anak yang terbagi menjadi dua, yaitu masa pranatal dan masa postnatal. Setiap masa tersebut memiliki ciri khas dan perbedaan dalam anatomi, fisiologi, biokimia, dan karakternya.
Masa pranatal adalah masa kehidupan janin di dalam kandungan. Masa ini dibagi menjadi dua periode, yaitu masa embrio dan masa fetus. Masa embrio adalah masa sejakkonsepsi sampai umur kehamilan 8 minggu, sedangkan masa fetus adalah sejak umur 9 minggu sampai kelahiran.
Masa postnatal atau masa setelah lahir terdiri dari lima periode. Periode pertama adalah masa neonatal dimana bayi berusia 0 - 28 hari dilanjutkan masa bayi yaitu sampai usia 2 tahun. Masa prasekolah adalah masa anak berusia 2 – 6 tahun. Sampai dengan masa ini, anak laki-laki dan perempuan belum terdapat perbedaan, namun ketika masuk dalam masa selanjutnya yaitu masa sekolah atau masa pubertas, perempuan berusia 6 – 10 tahun, sedangkan laki-laki berusia 8 - 12 tahun. Anak perempuan memasuki masa adolensensi atau masa remaja lebih awal dibanding anak laki-laki, yaitu pada usia 10 tahun dan berakhir lebih cepat pada usia 18 tahun. Anak laki-laki memulai masa pubertasa pada usia 12 tahun dan berakhir pada usia 20 tahun.
 ( Umur 0 – 3 bulan )
·                               Mengangkat kepala setinggi 45 derajat
·                               Menggerakan kepala dari kiri/kanan ke tengah
·                               Melihat dan menatap wajah anda
·                               Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
·                               Suka tertawa keras
·                               Bereaksi terkejut terhadap suara keras
·                               Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum
·                               Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran dan kontak
( Umur 3 – 6 bulan )
·                               Berbalik dari telungkup ke telentang
·                               Mengangkat kepala setinggi 90 derajat
·                               Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil
·                               Menggenggam pensil
·                               Meraih benda yang ada dalam jangkauannya
·                               Memegang tangannya sendiri
·                               Berusaha memperluas pandangan
·                               Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
·                               Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
·                               Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik
·                               Tersenyum ketika melihat mainan/gambar menarik saat bermain sendiri
( Umur 6 – 9 bulan )
·                               Duduk (sikap tripoid – sendiri)
·                               Belajar berdidir, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan
·                               Merangkak meraih mainan atau mendekatai seseorang
·                               Memindahkan benda sari satu tangan ke tangan lainnya
·                               Memungut 2 benda, masing-masing tangan pegang 1 benda pada saat yang bersamaan
·                               Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup
·                               Bersuara tanpa arti, mamama, bababa, dadada, tatata
·                               Mencari mainan/benda yang dijatuhkan
·                               Bermain tepung tangan/ciluk ba
·                               Bergembira dengan melempar benda
·                               Makan kue sendiri
( Umur 9 – 12 bulan )
·                               Mengangkat badannnya ke posisi sendiri
·                               Belajar berdiri selama 30 detik atau berpengangan di kursi
·                               Dapat berjalan dengan dituntun
·                               Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan
·                               Menggenggam erat pensil
·                               Memasukan benda ke mulut
·                               Mengulang menirukan bunyi yang didengar
·                               Menyebut 2 – 3 suku kata yang sama tanpa arti
·                               Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja
·                               Bereaksi terhadap suara yang perlaha atau bisikan
·                               Senang diajak bermain ciluk ba
·                               Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum kenal
( Umur 12 – 18 bulan )
·                               Berdiri sendiri tanpa berpegangan
·                               Membungkuk memungut mainan kemudian beridiri kembali
·                               Berjalan mundur 5 langkah
·                               Memanggil ayah dengan kata papa, memanggil ibu dengan kata mama
·                               Menumpuk dua kubus
·                               Memasukan kubus di kotak
·                               Menunjuk apa yang diiinginkan tapa menangis/merengek. Anak bisa mengeluarkan suara yang menyenangkan atau menarik tangan ibu
·                               Memperlihatkan rasa cemburu/bersaing
( Umur 18 – 24 bulan )
·                               Berdri sendiri tanpa berpegangan 30 detik
·                               Berjalan tanpa terhuyung-huyung
·                               Bertepuk tangan, melambai-lambai
·                               Menumpuk 4 buah kubus
·                               Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk
·                               Mengggelindinkan bola ke arah sasaran
·                               Menyebut 3 – 6 kata yang mempunyai arti
·                               Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga
·                               Memegang cangkir sendiri, belakar makan- minum sendiri
( Umur 24 – 36 bulan )
·                               Jalan naik tangga sendiri
·                               Dapat bermain dean menendang bola kecil
·                               Mencoret-coret pensil pada kertas
·                               Bicara dengan baik, menggunakan 2 kata
·                               Dapat menunjuk satu atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta
·                               Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama dua benda atau lebih
·                               Membantu memungut mainannya sendiri atau tampa membantu
·                               Mengangkat piring jika diminta
·                               Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah
·                               Melepas pakaiannya sendiri

MASALAH MENGENAI PERKEMBANGAN

Masalah yang sering timbul dalam pertumbuhan dan perkembangan anak meliputi gangguan pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, bahasa, emosi, dan perilaku.

1.Gangguan Pertumbuhan Fisik

Gangguan pertumbuhan fisik meliputi gangguan pertumbuhan di atas normal dan gangguan pertumbuhan di bawah normal. Pemantauan berat badan menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat) dapat dilakukan secara mudah untuk mengetahui pola pertumbuhan anak. Menurut Soetjiningsih (2003) bila grafik berat badan anak lebih dari 120% kemungkinan anak mengalami obesitas atau kelainan hormonal. Sedangkan, apabila grafik berat badan di bawah normal kemungkinan anak mengalami kurang gizi, menderita penyakit kronis, atau kelainan hormonal.

Lingkar kepala juga menjadi salah satu parameter yang penting dalam mendeteksi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Ukuran lingkar kepala menggambarkan isi kepala termasuk otak dan cairan serebrospinal. Lingkar kepala yang lebih dari normal dapat dijumpai pada anak yang menderita hidrosefalus, megaensefali, tumor otak ataupun hanya merupakan    variasi normal. Sedangkan apabila lingkar kepala kurang dari normal dapat diduga anak menderita retardasi mental, malnutrisi kronis ataupun hanya merupakan variasi normal. Deteksi dini gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan yang lebih berat. Jenis gangguan penglihatan yang dapat diderita oleh anak antara lain adalah maturitas visual yang terlambat, gangguan refraksi, juling, nistagmus, ambliopia, buta warna, dan kebutaan akibat katarak, neuritis optik, glaukoma, dan lain sebagainya. (Soetjiningsih, 2003). Sedangkan ketulian pada anak dapat dibedakan menjadi tuli konduksi dan tuli sensorineural.
Menurut Hendarmin (2000), tuli pada anak dapat disebabkan karena faktor prenatal dan postnatal. Faktor prenatal antara lain adalah genetik dan infeksi TORCH yang terjadi selama kehamilan. Sedangkan faktor postnatal yang sering mengakibatkan ketulian adalah infeksi bakteri atau virus yang terkait dengan otitis media.
2. Gangguan perkembangan motorik

Perkembangan motorik yang lambat dapat disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu penyebab gangguan perkembangan motorik adalah kelainan tonus otot atau penyakit neuromuskular. Anak dengan serebral palsi dapat mengalami keterbatasan perkembangan motorik sebagai akibat spastisitas, athetosis, ataksia, atau hipotonia.
Kelainan sumsum tulang belakang seperti spina bifida juga dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik. Penyakit neuromuscular sepeti muscular distrofi memperlihatkan keterlambatan dalam kemampuan berjalan. Namun, tidak selamanya gangguan perkembangan motorik selalu didasari adanya penyakit tersebut. Faktor lingkungan serta kepribadian anak juga dapat mempengaruhi keterlambatan dalam perkembangan motorik. Anak yang tidak mempunyai kesempatan untuk belajar seperti sering digendong atau diletakkan di baby walker dapat mengalami keterlambatan dalam mencapai kemampuan motorik.

3. Gangguan perkembangan bahasa

Kemampuan bahasa merupakan kombinasi seluruh system perkembangan anak. Kemampuan berbahasa melibatkan kemapuan motorik, psikologis, emosional, dan perilaku (Widyastuti, 2008). Gangguan perkembangan bahasa pada anak dapat diakibatkan berbagai faktor, yaitu adanya faktor genetik, gangguan pendengaran, intelegensia rendah, kurangnya interaksi anak dengan lingkungan, maturasi yang terlambat, dan faktor keluarga. Selain itu, gangguan bicara juga dapat disebabkan karena adanya kelainan fisik seperti bibir sumbing dan serebral palsi. Gagap juga termasuk salah satu gangguan perkembangan bahasa yang dapat disebabkan karena adanya tekanan dari orang tua agar anak bicara jelas (Soetjingsih, 2003).
4. Gangguan Emosi dan Perilaku

Selama tahap perkembangan, anak juga dapat mengalami berbagai gangguan yang terkait dengan psikiatri. Kecemasan adalah salah satu gangguan yang muncul pada anak dan memerlukan suatu intervensi khusus apabila mempengaruh interaksi social dan perkembangan anak. Contoh kecemasan yang dapat dialami anak adalah fobia sekolah, kecemasan berpisah, fobia sosial, dan kecemasan setelah mengalami trauma. Gangguan perkembangan pervasif pada anak meliputi autisme serta gangguan perilaku dan interaksi sosial. Menurut Widyastuti (2008) autism adalah kelainan neurobiologist yang menunjukkan gangguan komunikasi, interaksi, dan perilaku. Autisme ditandai dengan terhambatnya perkembangan bahasa, munculnya gerakan-gerakan aneh seperti berputar-putar, melompat-lompat, atau mengamuk tanpa sebab.

PERKEMBANGAN DAN PENDIDIKAN ANAK
Perkembangan pendidikan anak sangat penting untuk kita ketahui agar perkembangan buah hati kita bisa berkembang dengan baik sehingga bisa tumbuh sesuai dengan yang kita harapkan.

Anak merupakan obyek utama dari pendidikan dan di dalam anak mempunyai pembawaan yang disebut Bakat. Adapun aliran yang berpendapat bahwa pembawaan itu berperan pada perkembngan sebagai berikut:
  1. Aliran nativisme”perkembangan seorang anak ditentukan oleh pembawaannya”. 
  2. Aliran naturalisme (JJ Rousseu)”anak itu lahir dengan sifat-sifatnya sesuai dengan alamnya sendiri”
  3. Aliran predestinasi/predeterminasi”perkembangan anak ditentukan oleh nasibnya”
Sedangkan aliran tentang lingkungan berperan pada perkembangan adalah sebagai berikut:
  1. Teori Tabularasa (John Lock) : ”anak dilahirkan dalam keadaan bersih,tidak ada pembawaan apa-apa seperti sehelai kertas yang masih kosong”. 
  2. Emanual Kant”manusia tidak lain adalah hasil dari pendidikan ,oleh karena itu berarti bahwa pendidikan sanggup membuat manusia yang bagaimana saja”.
Menurut Wilhelm yang terkenal dengan teori konvergensimya ”perkembangan anak itu tidak hamya totyentuakn oleh pembawaannya sajdan juga tidak lingkungan saja. Aspek perkembangan anak sejak ia dibentuk hingga mencapai kedewasaan diantaranya:perkembangan motorik, ingatan, pengamatan dan inovasi, perkembangan berpikir dan kepribadian serta kedewasaan.

Dalam suatu pendidikan terdapat siatu limgkungan yang biasa kita sebut Tri pusat pendidikan, yaitu:
  • Lingkungan keluarga:merupakan lingkungan pendidikan yang pertama karena dalam anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. 
  • Lingkungan sekolah :merupakan bagian darli pendidikn dalan keluarga dan merupakan lanjutan pendidikan dalam keluarga serta merupkan jembatan bagi anak yang menghubungkan kehiupan keluarga dan masyarakat.  
  • Lingkungan masyaraakt:apabila anak tidak di bawah pengawasan orang tua dan anggota keluarga yamg serta tidak di bawah pengawasan guru dan petugs sekolah yang lain.Lingkungn ini tidak berperan dalam mendidik hanya memberi pengaruh.
Selain lingkungan di atas dapat dibedakan sebagai berikut:
  1. Lingkungan alam :limgkungan ini bersifat klimatologis,geografis dan keadaan tanah 
  2. Lingkungan sosisal:lingkungan ini dibagi dua yaitu sosial keluarga dan masyarakat

Peran Pembawaan dalam Perkembangan
Pembawaan atau bakat adalah merupakan potensi-potensi , atau kemungkinan-kemungkinan yang memberikan kemungkinan kepada seseorang untuk berkembang menjadi sesuatu. Berkembang tidaknya potensi yang ada pada anak masih sangat tergantung pada faktor-faktor pendidikan yang lain.  

Terdapat aliran-aliran yang berpendapat :  
1.        Nativisme adalah perkembangan ini ditentukan oleh pembawaannya 
2.        Naturalisme (J.J. Rousseaw) adalah anak lahir m,embawa sifat-sifat sendiri. 
3.        Presditinasi/Predertiminasi adalah nasib

Peran Lingkungan Terhadap Lingkungan
Lingkungan dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangananak baik secara lanmg sung maupun tak langsung. Baik secara disengaja maupun tidak disengaja .
  1. Teori Tabularasa (John Lock) : anak dilahirkan dalam keadaan masih bersih, tidak ada pembawaan apa-apa. 
  2. Emmanual Kant : Manusia tidak lain adalah hasil dari pendidikan dengan demikian, bahwa pendidikan sanggup membuat manusia yang bagaimana saja
Teori Konvergensi Perkembangan anak tidak hanya ditentukan oleh pembawaan saja dan tidak oleh lingkungan saja akan tetapi oleh dua-duanya. Menurut teori konvergensi bahwa perkembangan anak itu tidak hanya ditentukn oleh perkembangan saja, dan juga tidak hanya ditentukan oleh lingkungan saja. Melainkan perkembangan anak ditentukan dari hasil kerja sama antara kedua faktor tersebut.
Pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang aktif . makhluk yang didalam dirinya terdapat kecenderungan , terdapat naluri untuk membentuk dirinya sendiri, pada manusia terdapat kemampuan dan kemauan untuk menggerakan dan mengarahkan kemana perkambangan itu ditujukan, inilah yang dimaksud peranan aktivitas pribadi.

Beberapa aspek Perkembangan
Aspek perkembangan yaitu : perkembangan motorik, pengamatan, berfikir, kepribadian dan kedewasaan. 
  • Perkembangan motoprik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan 
  • Perkembanagn pengamatan, ingatan dan fantasi  
  • Penghamatan, perkembangan pengamatan sama halnya pada perkembangan motorik pada permulaan. Yaitu mula-mula bersifat umum, global, yang selanjutnya menuju kehal-hal yang khusus.  
  • Ingatan , berkembang sesuai umur semakin bertambah usia anak maka makin bertambah juga kemampuan daya ingatnya  
  • Fantasi,mulai berkembang pada usia kurang lebih tiga tahun dan selanjutnya terus berkembang.  
  • Perkembangan berfikir, kemampuan berfikir ini juga berkembang sesuai dengan pertambahan usia. Mulai kanak-kanak hinga pada akhir nya tercapaikepribadian yang bulat  
  • Perkembangan kepribadian, perkembangan selalu menyangkut kehidupan aku pribadi (ego) dalam hubungannya dengan kehidupan sekitar. Pada mulanya sifat ego tersebut sangattinggi, namun seiring bertambahnya usia sifat tersebut semakin berkurang akibat bertambahnya pengalaman-pengalaman hidup dalam masyarakat.  
  • Perkembangan kedewasaan, perkembangan ini tidak dapat dilepas dari perkembangan kepribadian. Terbentuknya kepribadian yang bulat, berarti pula tercapainya kedewasaan
PERKEMBANGAN KOGNITIF
OTAK
Struktur otak membantu mengatur tidak hanya perilaku tetapi juga metabolism, pelepasan hormon dan aspek lain dari fisiologi tubuh. Akhir-akhir ini ilmuwan berpendapat bahwa otak ternyata memiliki kelenturan, dan perkembangannya tergantung pada konteks (individu).
Fisiologi Otak
Otak manusia terbagi atas dua bagian yakni otak kiri dan otak kanan. Tiap hemister memiliki empat daerah utama yang disebut lobus. Meskipun lobus ini berkerja bersama tetapi masing-masing memiliki fungsi primer yang berbeda yaitu:
a. Lobus frontal, terlibat dalam gerakan yang disengaja, berpikir, kepribadian, dan perencanaan atau tujuan.
b. Lobus oksipital, berfungsi dalam penglihatan.
c. Lobus temporal, memiliki peran aktif dalam pendengaran, pemprosesan bahasa dan ingatan.
d. Lobus parietal, memainkan peranan penting dalam menunjukkan lokasi spasial, perhatian, dan kendali motorik.
TEORI PIAGET
Menurut Piaget proses yan digunakan anak untuk membangun pengetahuan tentang dunia adalah skema, asimilasi, akomodasi, organisasi, keseimbangan, dan penyeimbangan.
Ketika anak mulai membangun pemahamannya tentang dunia, otak yang berkembang pun membentuk sebuah skema. Ini merupakan tindakan-tindakan mental yang mengorganisasikan pengetahuan. Skema-skema perilaku (aktivitas-aktivitas fisik) mencirikan masa bayi dan skema-skema mental (aktivitas-aktivitas kognitif) berkembang pada masa kanak-kanak.
Aktivitas-aktivitas bayi disusun oleh tindakan-tindakan sederhana yang diterapkan pada obyek-obyek tertentu, misalnya menyusu, melihat, dan menggenggam.
Untuk menjelaskan bagaimana anak-anak menggunakan skema sambil beradaptasi, Piaget menawarkan dua konsep yakni:
a. Asimilasi, terjadi saat anak menggabungkan informasi ke dalam pengetahuan yang telah mereka miliki. Misalnya anak perempuan 8 tahun yang diberi sebuah palu dan paku untuk menggantung sebuah lukisan di dinding. Ia belum pernah menggunakan palu, tetapi dari pengalaman dan pengamatan ia mengetahui bahwa palu adalah benda yang harus dipegang, diayun gagangnya untuk memukul paku, dan bahwa biasanya dipukul beberapa kali. Tahu akan hal ini, ia menyesuaikan tugas barunya ke dalam pengetahuan yang ia miliki.
b. Akomodasi, terjadi bila anak menyesuaikan pengetahuan mereka agar cocok dengan informasi dan pengalaman baru. Misalnya palu adalah benda berat, maka ia memegangnya terlalu ke atas, ia mengayun terlalu keras dan pakunya bengkok, maka ia menyesuaikan tekanan pukulannya, ini menunjukkan kemampuanya mengubah pengetahuannya.


Piaget juga percaya bahwa kita melalui empat tahap dalam memahami dunia yakni:
1. Tahapan Sensorimotor
Tahap ini mulai dari 0-2 tahun, anak mulai membangun pemahaman mengenai dunia ini dengan mengkoordinasikan pengalaman sensoris (pengilihatan dan pendengaran) dengan tindakan fisik dan motorik. Bayi memiliki lebih dari sekedar pola-pola refleksif untuk dapat melakukan sesuatu. Pada akhir tahap ini anak umur 2 tahun memiliki pola sensorimotor kompleks dan mulai menggunakan simbol-simbol sederhana.

2. Tahapan Praoperasional
Tahap ini sekitar umur 2-7 tahun, anak mulai menjelaskan dunia dengan kata-kata, gambar, dan lukisan. Namun anak prasekolah masih kurang mampu melakukan operasi (tindakan mental yang terinternalisasi) yang memungkinkan anak melakukan secara mental apa yang sebelumnya hanya dilakukan secara fisik. Akan tetapi beberapa hambatan pemikiran anak pada tahap ini adalah egosentrisme dan sentralisasi.
Sentralisasi adalah pemusatan perhatian pada satu karakteristik dan pengabaian karakteristik lain. Misalnya dalam membandingkan isi dari dua buah gelas berisi air yang bentuknya berbeda. Operasi adalah tindakan mental dua arah (reversible). Penambahan dan pengurangan jumlah secara mental adalah contoh operasi. Pemikiran-pemikiran praoperasional adalah awal kemampuan menyusun ulang dalam pemikiran hal-hal yang telah dibentuk dalam perilaku.
Anak pada usia ini menggunakan desain-desain acak untuk menggambarkan orang, rumah, dll, mereka mulai menggunakan bahasa dan melakukan permainan “pura-pura” (permainan seolah menganggap dirinya sebagai seseorang sesuatu). Namun, meski anak-anak membuat kemajuan yang unik dalam sub tahapan ini, kemajuan pemikiran mereka masih memiliki beberapa batasan-batasan yang penting, dua diantaranya adalah egosentrisme dan animisme.
a. Egosentrisme: merupakan ketidakmampuan membedakan perspektif diri sendiri dan orang lain. Misalnya dalam percakapan dengan cara mengangguk.
b. Animisme: merupakan keyakinan bahwa objek-objek yang tidak bergerak memiliki kehidupan dan kemampuan bertindak.

3. Tahapan Operasional Kongkret
Tahap ini berkisar 7-11 tahun, anak dapat melakukan operasi dan penalaran logis menggantikan pikiran intuitif selama penalaran dapat diterapkan pada contoh kasus dan kongkret, memahami konsep percakapan, mengorganisasikan obyek menjadi kelas-kelas hierarki (klasifikasi) dan menempatkan obyek-obyek dalam urutan yang teratur (serialisasi).

4. Tahapan Operasional Formal
Tahap ini berkisar 11-15 tahun, individu lebih melampaui pengalaman kongkret dan berpikir abstrak, idealis dan lebih logis. Berpikir lebih abstrak, remaja menciptakan bayangan situasi ideal, berpikir mengenai bagaimana orang tua ideal seharusnya dan membandingkan orang tua mereka dengan standar ideal ini. Mereka mulai mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan masa depan dan takjub mereka dapat menjadi apa saja. Dalam memecahkan masalah, pemikir operasional formal lebih sistematis, mengembangkan hipotesis mengenai mengapa sesuatu terjadi dengan cara tertentu, kemudian menguji hipotesis ini dengan cara deduktif.

Untuk penerapan teori tersebut di dalam pendidikan perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1.      Lingkungan pendidikan sebaiknya menyediakan berbagai kegiatan yang mendorong perkembangan kognitif anak.
2.      Perlu interaksi anak dengan teman sebayanya seperti melakukan eksplorasi, inquiri dan discovery. Untuk memperkaya pengalaman empirik, logika matematika dan sosial anak.
3.      Mempertimbangkan strategi mengajar yang menghadapkan anak pada peristiwa yang mengandung konflik dan ketidakpastian, sehingga proses asimilasi, akomodasi dan equilibrium dapat terjadi.
4.      Proses belajar berdasarkan tugas-tugas belajar yang sesuai dengan perkembangan kognitif anak sehingga anak dapat berpartisipasi aktif melalui berbagai kegiatan eksplorasi, inquiri dan discovery.

TEORI VIGOTSKY
      Vigotsky menjabarkan 3 konsep pokok dalam perkembangan kognitif, yaitu:
·         Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara developmental (dengan cara memeriksa asal-usul dan transformasinya dari bentuk awal ke bentuk selanjutnya).
·         Kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa dan bentuk diskursus yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentransormasi aktivitas mental.
·          Kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.
            Vigotsky juga mengemukakan beberapa ide mengenai zone of proximal developmental (ZPD) yaitu serangkaian tugas sulit yang dikuasai anak secara sendirian, tetapi dapat dipelajari dengan bantuan orang dewasa atau yang lebih mampu.
Perbedaan Teori Kognitif Piaget dan Vygotsky
Membicarakan psikologi pendidikan dan aspek-aspek yang dipelajari di dalamnya memang sangat menarik. Salah satunya adalah bila kita mencoba mendalami tentang teori Piaget dan teori Vygotsky. Berkaitan dengan perkembangan kognitif, dua ahli terkenal di bidang ini, yaitu Piaget dan Vygotsky mempunyai perbedaan pendapat tentang bagaimana egosentris dan bicara terhadap diri sendiri pada anak. Tabel di bawah ini menunjukkan bagaimana teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget berbeda dengan teori yang dikemukakan oleh Vygotsky, berkaitan dengan perkembangan kognitif. Perbedaan kedua teori mencakup hal-hal yang berkaitan dengan egosentris dan bicara sendiri pada anak-anak.
Tabel   Perbedaan Teori Piaget dan teori Vygotsky tentang Egosentris dan Bicara Sendiri (Self Talk)
Pembeda
Teori Piaget
Teori Vygotsky
Signifikansi Perkembangan
Merupakan ketidakmampuan untuk mengambil perspektif orang lain dan terlibat dalam komunikasi timbal balik.
Merupakan pemikiran eksternal, fungsinya adalah untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dengan tujuan  untuk bimbingan diri sendiri dan pengarahan diri sendiri.
Proses Perkembangan
Berkurang dengan bertambahnya usia.
Bertambah pada usia yang lebih muda dan kemudian secara bertahap lenyap secara audial sehingga menjadi pemikiran verbal internal.
Hubungan dengan Bicara Sosial
Negatif; anak yang kurang bersosialisasi dan matang secara kognitif  menggunakan lebih banyak bicara egosentris.
Positif, bicara sendiri mengembangkan kemampuan sosial anak dengan orang lain.
PERKEMBANGAN BAHASA
 APAKAH BAHASA ?
Istilah bahasa memiliki arti suatu kode atau system symbol dan urutan kata – kata yang diterima secara konvesional untuk menyampaikan konsep-konsep atau ide-ide dan berkomunikasi melalui penggunaan symbol-simbol yang disepakati dan kombinasi symbol yang diatur oleh ketentuan yang ada (Conny.R: 1999). Dari pengertian bahasa menurut para ahli tersebut seseorang mengekspresikan bahasa tidak hanya dengan ucapan tetapi juga menggunakan symbol-simbol atau kode sebagai isyarat dalam berkomunikasi. Bahasa merupakan alat komunikasi lisan yang dilakukan individu dalam berkomunikasi dengan orang lain.
            PENGARUH FAKTOR BIOLOGIS / LINGKUNGAN
Seperti yang diketahui selama ini perkembangan bahasa tidak lepas dari pengaruh faktor biologis dan lingkungan Kedua faktor tersebut memiliki pengaruh penting dalam perkembangan bahasa anak. Faktor biologis meliputi evolusi biologis, ikatan biologis, peranan otak, serta periode krisis belajar bahasa anak. Evolusi biologis merupakan perkembangan individu sejak sebelum dilahirkan . Menurut perkiraan para ahli manusia mendapat bahasa bervariasi selama beribu-ribu tahun dari sekitar 20.000 sampai 70.000 tahun yang lalu. Kemudian akhirnya bahasa adalah suatu pemerolehan yang selalu baru terjadi. Ikatan biologis dalam belajar bahasa memberikan pengaruh pada suatu waktu dan cara tertentu pula. Sejak lahir manusia memiliki alat pemerolehan bahasa (Language Acquisition Device = LAD) yaitu suatu kemampuan dalam mendeteksi katagori bahasa tertentu yang mendasari semua bahasa manusia. Berdasarkan penelitian Cazzaniaga dan Sperry bahwa proses bahasa itu dikrontol oleh belahan otak bagian kiri. Jika otak bagian kiri mengalami gangguan maka akan terjadi penghambatan dalam perkembangan bahasa. Selain ketiga faktor biologis tersebut periode krisis belajar bahasa memiliki pengaruh dalam perkembangan bahasa. Menurut pengamatan para ahli periode krisis belajar anak sekitar berumur 12 tahun. Pada umur tersebut anak sudah mulai aktif dalam berbahasa, berbeda dengan anak yang masih batita yang hanya mampu mengucapkan maksimal 3-5 kata.
Perkembangan bahasa tidak lepas dari pengaruh lingkungan tempat individu bertempat tinggal. Kondisi masyarakat serta reaksi sosial individu pada lingkungannya berpengaruh terhadap perkembangan bahasa anak. Seorang anak yang tinggal bersama ibunya yang penuh kasih sayang dan bertutur kata halus akan berbeda perkembangan bahasanya dengan anak yang tinggal bersama orang tua yang selalu melontarkan kata-kata kasar kepadanya.
Selain faktor lingkungan dan biologis pada individu dalam perkembangan perkembangan bahasa, kognisi seorang anak juga memiliki peran dalam perkembangannya. Kognisi merupakan penalaran seorang individu dalam menaggapi suatu hal. Misalnya seorang anak mendengar ucapan “roti makan Ani” si anak tahu bahwa yang didengarnya itu merupakan struktur bahasa yang salah, seharusnya “Ani makan roti” Peran kognisi dalam perkembangan bahasa anak adalah memberikan pengetahuan yang konkret dalam penggunaan bahasa yang benar.
PERKEMBANGAN BAHASA
Bahasa berkembang tidak langsung sekaligus dalam satu proses melainkan melalui beberapa tahap, mulai dari bayi yang hanya bisa menangis sampai orang dewasa yang telah mampu berbicara di khalayak umum dengan struktur bahasa yang baik dan benar. Para ahli mengklasifikasikan ada 3 tahap dalam perkembangan bahasa, yaitu: perkembangan bahasa usia bayi, anak usia dini, dan usia sekpolah. Dalam perkembangan bahasa anak usia bayi masih bersifat holoprase hypothese yang artinya keterampilan kognitif atau linguistik bayi terbatas sehingga bayi memiliki kemampuan berbahasa sesuai dengan kondisi fisiknya. Meningkat pada usia dini, anak sudah mulai mampu merangkai beberapa kata menjadi sebuah kalimat sehingga pada usia sekolah anak mampu mengucapkan kalimat-kalimat sesuai dengan keadaan atau materi . Namun, tahap perkembangan individu dalam prosesnya tidak semua sama antara individu yang satu dengan yang lain tergantung dari pengaruh faktor-faktor perkembangan bahasa.
Kita sebagai calon pendidik sudah harus belajar mengetahui perkembangan bahasa masing-masing anak. Dalam proses kegiatan belajar mengajar nanti seorang guru dituntut untuk menjadi teladan dalam penggunaan bahasa di lingkungan sekolah sehingga ucapan guru yang baik atau buruk akan selalu diperhatikan oleh peserta didik. Komunikasi penyampaian materi pembelajaran antara siswa dan guru harus bersifat comfortable agar siswa nyaman dalam menerima materi dan menangkapnya dalam memory. Dengan demikian guru SD diharapkan sekali menggunakan bahasa anak daripada bahasa orang dewasa.

KASUS NYATA MENGENAI PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN BAHASA DALAM BIDANG MATEMATIKA
Berikut akan dipaparkan contoh “kasus nyata” keunikan siswa dalam proses belajar, yang cerita ini saya kutip dari buku yang ditulis oleh Munif Chatib (2009), “Sekolahnya Manusia”. Kasus berikut merupakan contoh seorang anak yang belajar matematika dengan pendekatan kecerdasan spasial yang dimilikinya.
Latif adalah siswa kelas 2. Latif bermasalah dalam belajar. Masalah yang dia alami sangat kompleks karena kombinasi berbagai masalah. Pertama, dia tidak pernah masuk kelas. Oleh karena itu, banyak sekali materi yang tidak pernah ia ikuti. Kedua, Latif tidak pernah membawa buku dan alat tulis. Latif sama sekali tidak termotivasi untuk belajar, akibatnya dia tidak bisa mengenal angka dan penjumlahan “.
Analisis kasus diatas dan pemecahan masalahnya :
Ternyata, keluarga menjadi latar belakang terbesar masalah Latif. Sang ibu telah lama bekerja di luar negeri, sementara ayahnya memiliki pekerjaan tidak tetap dan sering ke luar kota. Kondisi ini membuat sang ayah sama sekali tidak memberikan perhatian kepada anaknya, khususnya soal pendidikan. Latif tinggal bersama neneknya yang sama sekali tak peduli urusan sekolah sang cucu. Dapat disimpulkan, masalah Latif bersumber pada kurang perhatian dan kurang kasih sayang orangtuanya.
Namun, di balik masalah tersebut, tersimpan potensi yang luar biasa. Latif sangat suka menggambar dan mewarnai (kecerdasan spasial-visual). Guru matematika di kelas Latif punya ide untuk mengajarkan penjumlahan lewat pintu kecerdasan Latif. Guru tersebut memberikan kesempatan kepada Latif untuk belajar penjumlahan dengan cara melukis angka-angka penjumlahan pada kertas folio yang disambung berjejer di dinding kelas. Betapa antusiasnya Latif “menggambar” di dinding tersebut. Inilah sebuah proses gaya mengajar yang berhasil masuk dalam dunia siswa.
Sekarang, Latif termotivasi untuk sekolah dan sangat senang dengan pelajaran matematika.Hasilnya dia mampu menguasai materi penjumlahan yang dahulu dibencinya.
Belajar dari cerita “kasus” Latif di atas, maka menurut hemat kami, (misalkan) untuk belajar matematika, setiap siswa harus didekati melalui kecenderungan kecerdasan yang dimilikinya.Akibatnya, jika teori Multiple Intelligences ini benar-benar diterapkan dalam strategi pembelajaran, maka pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru merupakan pendekatan secara personal. Hal ini, tentunya akan membawa konsekuensi bahwa seorang guru harus “sabar” untuk bisa membuat bagaimana siswa dapat menemukan kegairahannya dalam belajar, dan pembelajaran tidak hanya ditargetkan untuk “menghabiskan” materi dalam kurikulum.
Dengan menerapkan strategi pemnbelajaran (matematika), maka guru harus mengetahui, bahwa akan ada beragam profil gaya belajar siswa, yaitu:
(a) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Linguistik.
(b) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Matematis.
(c) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Visual-Spasial.
(d) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Musikal.
(e) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Kinestetis.
(f) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Interpersonal.
(g) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Intrapersonal.
(h) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Naturalis.
(i) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Eksistensial.



PENUTUP

Kesimpulan
Perkembangan kognitif pada peserta didik merupakan suatu pembahasan yang cukup penting bagi pengajar maupun orang tua. Perkembangan kognitif pada anak merupakan kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah yang termasuk dalam  proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Dalam memahami perkembangan kognitif, kita harus mengetahui proses perkembangan kognitif tersebut. Perkembangan kognitif dapat dikaji dengan menggunakan dua cara yaitu dengan pendekatan tentang tahapan-tahapan perkembangan kognitif yang dijelaskan oleh Piaget dan dengan caran system pemprosesan informasi. Pada teori pemprosesan informasi lebih menekankan bagaimana proses-proses terjadinya perkembangan kognitif, tetapi pada teori Piaget membagi proses tersebut ke dalam berbagai tahapan.
Bahasa merupakan alat komunikasi lisan yang dilakukan individu dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Seperti yang diketahui selama ini perkembangan bahasa tidak lepas dari pengaruh faktor biologis dan lingkungan Kedua faktor tersebut memiliki pengaruh penting dalam perkembangan bahasa anak. Faktor biologis meliputi evolusi biologis, ikatan biologis, peranan otak, serta periode krisis belajar bahasa anak.


DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar