PEMBAHASAN
PROSES DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN
Tumbuh
kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan, dan berkesinambungan
dimulai sejak pembuahan sampai dewasa. Walaupun terdapat variasi, namun setiap
anak akan melewati suatu pola tertentu. Tanuwijaya (2003) memaparkan tentang
tahapan tumbuh kembang anak yang terbagi menjadi dua, yaitu masa pranatal dan
masa postnatal. Setiap masa tersebut memiliki ciri khas dan perbedaan dalam
anatomi, fisiologi, biokimia, dan karakternya.
Masa
pranatal adalah masa kehidupan janin di dalam kandungan. Masa ini dibagi
menjadi dua periode, yaitu masa embrio dan masa fetus. Masa embrio adalah masa
sejakkonsepsi sampai umur kehamilan 8 minggu, sedangkan masa fetus adalah sejak
umur 9 minggu sampai kelahiran.
Masa
postnatal atau masa setelah lahir terdiri dari lima periode. Periode pertama
adalah masa neonatal dimana bayi berusia 0 - 28 hari dilanjutkan masa bayi
yaitu sampai usia 2 tahun. Masa prasekolah adalah masa anak berusia 2 – 6
tahun. Sampai dengan masa ini, anak laki-laki dan perempuan belum terdapat perbedaan,
namun ketika masuk dalam masa selanjutnya yaitu masa sekolah atau masa
pubertas, perempuan berusia 6 – 10 tahun, sedangkan laki-laki berusia 8 - 12
tahun. Anak perempuan memasuki masa adolensensi atau masa remaja lebih awal
dibanding anak laki-laki, yaitu pada usia 10 tahun dan berakhir lebih cepat
pada usia 18 tahun. Anak laki-laki memulai masa pubertasa pada usia 12 tahun
dan berakhir pada usia 20 tahun.
( Umur 0 – 3 bulan )
·
Mengangkat kepala setinggi 45 derajat
·
Menggerakan kepala dari kiri/kanan ke tengah
·
Melihat dan menatap wajah anda
·
Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
·
Suka tertawa keras
·
Bereaksi terkejut terhadap suara keras
·
Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum
·
Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran dan
kontak
( Umur 3 – 6 bulan )
·
Berbalik dari telungkup ke telentang
·
Mengangkat kepala setinggi 90 derajat
·
Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil
·
Menggenggam pensil
·
Meraih benda yang ada dalam jangkauannya
·
Memegang tangannya sendiri
·
Berusaha memperluas pandangan
·
Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
·
Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
·
Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik
·
Tersenyum ketika melihat mainan/gambar menarik saat bermain
sendiri
( Umur 6 – 9 bulan )
·
Duduk (sikap tripoid – sendiri)
·
Belajar berdidir, kedua kakinya menyangga sebagian berat
badan
·
Merangkak meraih mainan atau mendekatai seseorang
·
Memindahkan benda sari satu tangan ke tangan lainnya
·
Memungut 2 benda, masing-masing tangan pegang 1 benda pada
saat yang bersamaan
·
Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup
·
Bersuara tanpa arti, mamama, bababa, dadada, tatata
·
Mencari mainan/benda yang dijatuhkan
·
Bermain tepung tangan/ciluk ba
·
Bergembira dengan melempar benda
·
Makan kue sendiri
( Umur 9 – 12 bulan )
·
Mengangkat badannnya ke posisi sendiri
·
Belajar berdiri selama 30 detik atau berpengangan di kursi
·
Dapat berjalan dengan dituntun
·
Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan
·
Menggenggam erat pensil
·
Memasukan benda ke mulut
·
Mengulang menirukan bunyi yang didengar
·
Menyebut 2 – 3 suku kata yang sama tanpa arti
·
Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja
·
Bereaksi terhadap suara yang perlaha atau bisikan
·
Senang diajak bermain ciluk ba
·
Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum kenal
( Umur 12 – 18 bulan )
·
Berdiri sendiri tanpa berpegangan
·
Membungkuk memungut mainan kemudian beridiri kembali
·
Berjalan mundur 5 langkah
·
Memanggil ayah dengan kata papa, memanggil ibu dengan kata
mama
·
Menumpuk dua kubus
·
Memasukan kubus di kotak
·
Menunjuk apa yang diiinginkan tapa menangis/merengek. Anak
bisa mengeluarkan suara yang menyenangkan atau menarik tangan ibu
·
Memperlihatkan rasa cemburu/bersaing
( Umur 18 – 24 bulan )
·
Berdri sendiri tanpa berpegangan 30 detik
·
Berjalan tanpa terhuyung-huyung
·
Bertepuk tangan, melambai-lambai
·
Menumpuk 4 buah kubus
·
Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk
·
Mengggelindinkan bola ke arah sasaran
·
Menyebut 3 – 6 kata yang mempunyai arti
·
Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga
·
Memegang cangkir sendiri, belakar makan- minum sendiri
( Umur 24 – 36 bulan )
·
Jalan naik tangga sendiri
·
Dapat bermain dean menendang bola kecil
·
Mencoret-coret pensil pada kertas
·
Bicara dengan baik, menggunakan 2 kata
·
Dapat menunjuk satu atau lebih bagian tubuhnya ketika
diminta
·
Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama dua
benda atau lebih
·
Membantu memungut mainannya sendiri atau tampa membantu
·
Mengangkat piring jika diminta
·
Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah
·
Melepas pakaiannya sendiri
MASALAH
MENGENAI PERKEMBANGAN
Masalah
yang sering timbul dalam pertumbuhan dan perkembangan anak meliputi gangguan
pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, bahasa, emosi, dan perilaku.
1.Gangguan
Pertumbuhan Fisik
Gangguan
pertumbuhan fisik meliputi gangguan pertumbuhan di atas normal dan gangguan pertumbuhan di
bawah normal. Pemantauan berat badan menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat)
dapat dilakukan secara mudah untuk mengetahui pola pertumbuhan anak.
Menurut Soetjiningsih (2003) bila grafik berat badan anak lebih dari 120%
kemungkinan anak mengalami obesitas atau kelainan hormonal. Sedangkan, apabila
grafik berat badan di bawah normal kemungkinan anak mengalami kurang gizi,
menderita penyakit kronis, atau kelainan hormonal.
Lingkar
kepala juga menjadi salah satu parameter yang penting dalam mendeteksi gangguan pertumbuhan
dan perkembangan
anak. Ukuran lingkar kepala menggambarkan isi kepala termasuk otak dan cairan
serebrospinal. Lingkar kepala yang lebih dari normal dapat dijumpai pada anak
yang menderita hidrosefalus, megaensefali, tumor otak ataupun hanya merupakan variasi normal. Sedangkan apabila lingkar
kepala kurang dari normal dapat diduga anak menderita retardasi mental,
malnutrisi kronis ataupun hanya merupakan variasi normal. Deteksi dini gangguan
penglihatan dan gangguan pendengaran juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi
terjadinya gangguan yang lebih berat. Jenis gangguan penglihatan yang dapat
diderita oleh anak antara lain adalah maturitas visual yang terlambat, gangguan
refraksi, juling, nistagmus, ambliopia, buta warna, dan kebutaan akibat
katarak, neuritis optik, glaukoma, dan lain sebagainya. (Soetjiningsih, 2003).
Sedangkan ketulian pada anak dapat dibedakan menjadi tuli konduksi dan tuli
sensorineural.
Menurut
Hendarmin (2000), tuli pada anak dapat disebabkan karena faktor prenatal dan
postnatal. Faktor prenatal antara lain adalah genetik dan infeksi TORCH yang
terjadi selama kehamilan. Sedangkan faktor postnatal yang sering mengakibatkan
ketulian adalah infeksi bakteri atau virus yang terkait dengan otitis media.
2. Gangguan perkembangan motorik
Perkembangan
motorik yang lambat dapat disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu penyebab
gangguan perkembangan motorik adalah kelainan tonus otot atau penyakit
neuromuskular. Anak dengan serebral palsi dapat mengalami keterbatasan
perkembangan motorik sebagai akibat spastisitas, athetosis, ataksia, atau
hipotonia.
Kelainan
sumsum tulang belakang seperti spina bifida juga dapat menyebabkan
keterlambatan perkembangan motorik. Penyakit neuromuscular sepeti muscular
distrofi memperlihatkan keterlambatan dalam kemampuan berjalan. Namun, tidak
selamanya gangguan perkembangan motorik selalu didasari adanya penyakit
tersebut. Faktor lingkungan serta kepribadian anak juga dapat mempengaruhi
keterlambatan dalam perkembangan motorik. Anak yang tidak mempunyai kesempatan
untuk belajar seperti sering digendong atau diletakkan di baby walker dapat
mengalami keterlambatan dalam mencapai kemampuan motorik.
3.
Gangguan perkembangan bahasa
Kemampuan
bahasa merupakan kombinasi seluruh system perkembangan anak. Kemampuan berbahasa
melibatkan kemapuan motorik, psikologis, emosional, dan perilaku (Widyastuti,
2008). Gangguan perkembangan bahasa pada anak dapat diakibatkan berbagai
faktor, yaitu adanya faktor genetik, gangguan pendengaran, intelegensia rendah,
kurangnya interaksi anak dengan lingkungan, maturasi yang terlambat, dan faktor
keluarga. Selain itu, gangguan bicara juga dapat disebabkan karena adanya
kelainan fisik seperti bibir sumbing dan serebral palsi. Gagap juga termasuk
salah satu gangguan perkembangan bahasa yang dapat disebabkan karena adanya
tekanan dari orang tua agar anak bicara jelas (Soetjingsih, 2003).
4.
Gangguan Emosi dan Perilaku
Selama
tahap perkembangan, anak juga dapat mengalami berbagai gangguan yang terkait
dengan psikiatri. Kecemasan adalah salah satu gangguan yang muncul pada anak
dan memerlukan suatu intervensi khusus apabila mempengaruh interaksi social dan
perkembangan anak. Contoh kecemasan yang dapat dialami anak adalah fobia
sekolah, kecemasan berpisah, fobia sosial, dan kecemasan setelah mengalami
trauma. Gangguan perkembangan pervasif pada anak meliputi autisme serta
gangguan perilaku dan interaksi sosial. Menurut Widyastuti (2008) autism adalah
kelainan neurobiologist yang menunjukkan gangguan komunikasi, interaksi, dan
perilaku. Autisme ditandai dengan terhambatnya perkembangan bahasa, munculnya
gerakan-gerakan aneh seperti berputar-putar, melompat-lompat, atau mengamuk
tanpa sebab.
PERKEMBANGAN
DAN PENDIDIKAN ANAK
Perkembangan pendidikan anak sangat penting untuk kita ketahui
agar perkembangan buah hati kita bisa berkembang dengan baik sehingga bisa
tumbuh sesuai dengan yang kita harapkan.
Anak
merupakan obyek utama dari pendidikan dan di dalam anak mempunyai pembawaan
yang disebut Bakat. Adapun aliran yang berpendapat bahwa pembawaan itu berperan
pada perkembngan sebagai berikut:
- Aliran
nativisme”perkembangan seorang anak ditentukan oleh pembawaannya”.
- Aliran
naturalisme (JJ Rousseu)”anak itu lahir dengan sifat-sifatnya sesuai
dengan alamnya sendiri”
- Aliran
predestinasi/predeterminasi”perkembangan anak ditentukan oleh nasibnya”
Sedangkan
aliran tentang lingkungan berperan pada perkembangan adalah sebagai berikut:
- Teori
Tabularasa (John Lock) : ”anak dilahirkan dalam keadaan bersih,tidak ada
pembawaan apa-apa seperti sehelai kertas yang masih kosong”.
- Emanual
Kant”manusia tidak lain adalah hasil dari pendidikan ,oleh karena itu
berarti bahwa pendidikan sanggup membuat manusia yang
bagaimana saja”.
Menurut Wilhelm yang terkenal dengan
teori konvergensimya ”perkembangan anak itu tidak hamya totyentuakn oleh
pembawaannya sajdan juga tidak lingkungan saja. Aspek perkembangan anak sejak ia dibentuk hingga mencapai
kedewasaan diantaranya:perkembangan motorik, ingatan, pengamatan dan inovasi,
perkembangan berpikir dan kepribadian serta kedewasaan.
Dalam suatu pendidikan terdapat
siatu limgkungan yang biasa kita sebut Tri pusat pendidikan, yaitu:
- Lingkungan
keluarga:merupakan lingkungan pendidikan yang pertama karena dalam anak
pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan.
- Lingkungan
sekolah :merupakan bagian darli pendidikn dalan keluarga dan merupakan
lanjutan pendidikan dalam keluarga serta merupkan jembatan bagi anak yang
menghubungkan kehiupan keluarga dan masyarakat.
- Lingkungan
masyaraakt:apabila anak tidak di bawah pengawasan orang tua dan anggota
keluarga yamg serta tidak di bawah pengawasan guru dan petugs sekolah yang
lain.Lingkungn ini tidak berperan dalam mendidik hanya memberi pengaruh.
Selain lingkungan di atas dapat dibedakan sebagai berikut:
- Lingkungan
alam :limgkungan ini bersifat klimatologis,geografis dan keadaan
tanah
- Lingkungan
sosisal:lingkungan ini dibagi dua yaitu sosial keluarga dan masyarakat
Peran Pembawaan dalam Perkembangan
Pembawaan atau bakat adalah
merupakan potensi-potensi , atau kemungkinan-kemungkinan yang memberikan
kemungkinan kepada seseorang untuk berkembang menjadi sesuatu. Berkembang
tidaknya potensi yang ada pada anak masih sangat tergantung pada faktor-faktor
pendidikan yang lain.
Terdapat
aliran-aliran yang berpendapat :
1.
Nativisme adalah perkembangan ini ditentukan oleh
pembawaannya
2.
Naturalisme (J.J. Rousseaw) adalah anak lahir m,embawa
sifat-sifat sendiri.
3.
Presditinasi/Predertiminasi adalah nasib
Peran Lingkungan Terhadap Lingkungan
Lingkungan dapat memberikan pengaruh
terhadap perkembangananak baik secara lanmg sung maupun tak
langsung. Baik secara disengaja maupun tidak disengaja .
- Teori
Tabularasa (John Lock) : anak dilahirkan dalam keadaan masih bersih, tidak
ada pembawaan apa-apa.
- Emmanual
Kant : Manusia tidak lain adalah hasil dari pendidikan dengan demikian,
bahwa pendidikan sanggup membuat manusia yang bagaimana saja
Teori Konvergensi Perkembangan anak tidak hanya
ditentukan oleh pembawaan saja dan tidak oleh lingkungan saja akan tetapi oleh
dua-duanya. Menurut teori konvergensi bahwa perkembangan anak itu tidak hanya
ditentukn oleh perkembangan saja, dan juga tidak hanya ditentukan oleh
lingkungan saja. Melainkan perkembangan anak ditentukan dari hasil kerja sama
antara kedua faktor tersebut.
Pada
hakekatnya manusia adalah makhluk yang aktif . makhluk yang didalam dirinya
terdapat kecenderungan , terdapat naluri untuk membentuk dirinya sendiri, pada
manusia terdapat kemampuan dan kemauan untuk menggerakan dan mengarahkan kemana
perkambangan itu ditujukan, inilah yang dimaksud peranan aktivitas pribadi.
Beberapa aspek Perkembangan Aspek perkembangan yaitu :
perkembangan motorik, pengamatan, berfikir, kepribadian dan kedewasaan.
- Perkembangan
motoprik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan
gerakan-gerakan
- Perkembanagn
pengamatan, ingatan dan fantasi
- Penghamatan,
perkembangan pengamatan sama halnya pada perkembangan motorik pada
permulaan. Yaitu mula-mula bersifat umum, global, yang selanjutnya menuju
kehal-hal yang khusus.
- Ingatan
, berkembang sesuai umur semakin bertambah usia anak maka makin bertambah
juga kemampuan daya ingatnya
- Fantasi,mulai
berkembang pada usia kurang lebih tiga tahun dan selanjutnya terus
berkembang.
- Perkembangan
berfikir, kemampuan berfikir ini juga berkembang sesuai dengan pertambahan
usia. Mulai kanak-kanak hinga pada akhir nya tercapaikepribadian yang
bulat
- Perkembangan
kepribadian, perkembangan selalu menyangkut kehidupan aku pribadi (ego)
dalam hubungannya dengan kehidupan sekitar. Pada mulanya sifat ego
tersebut sangattinggi, namun seiring bertambahnya usia sifat tersebut
semakin berkurang akibat bertambahnya pengalaman-pengalaman hidup dalam
masyarakat.
- Perkembangan
kedewasaan, perkembangan ini tidak dapat dilepas dari perkembangan
kepribadian. Terbentuknya kepribadian yang bulat, berarti pula tercapainya
kedewasaan
PERKEMBANGAN
KOGNITIF
OTAK
Struktur otak membantu mengatur
tidak hanya perilaku tetapi juga metabolism, pelepasan hormon dan aspek lain
dari fisiologi tubuh. Akhir-akhir ini ilmuwan berpendapat bahwa otak ternyata
memiliki kelenturan, dan perkembangannya tergantung pada konteks (individu).
Fisiologi Otak
Otak
manusia terbagi atas dua bagian yakni otak kiri dan otak kanan. Tiap hemister
memiliki empat daerah utama yang disebut lobus. Meskipun lobus ini berkerja
bersama tetapi masing-masing memiliki fungsi primer yang berbeda yaitu:
a. Lobus frontal, terlibat dalam
gerakan yang disengaja, berpikir, kepribadian, dan perencanaan atau tujuan.
b.
Lobus oksipital, berfungsi dalam penglihatan.
c. Lobus temporal, memiliki peran
aktif dalam pendengaran, pemprosesan bahasa dan ingatan.
d. Lobus parietal, memainkan peranan
penting dalam menunjukkan lokasi spasial, perhatian, dan kendali motorik.
TEORI
PIAGET
Menurut Piaget proses yan digunakan
anak untuk membangun pengetahuan tentang dunia adalah skema, asimilasi,
akomodasi, organisasi, keseimbangan, dan penyeimbangan.
Ketika
anak mulai membangun pemahamannya tentang dunia, otak yang berkembang pun
membentuk sebuah skema. Ini merupakan tindakan-tindakan mental yang
mengorganisasikan pengetahuan. Skema-skema perilaku (aktivitas-aktivitas fisik)
mencirikan masa bayi dan skema-skema mental (aktivitas-aktivitas kognitif)
berkembang pada masa kanak-kanak.
Aktivitas-aktivitas
bayi disusun oleh tindakan-tindakan sederhana yang diterapkan pada obyek-obyek
tertentu, misalnya menyusu, melihat, dan menggenggam.
Untuk
menjelaskan bagaimana anak-anak menggunakan skema sambil beradaptasi, Piaget
menawarkan dua konsep yakni:
a.
Asimilasi, terjadi saat anak menggabungkan informasi ke dalam pengetahuan yang
telah mereka miliki. Misalnya anak perempuan 8 tahun yang diberi sebuah palu
dan paku untuk menggantung sebuah lukisan di dinding. Ia belum pernah
menggunakan palu, tetapi dari pengalaman dan pengamatan ia mengetahui bahwa
palu adalah benda yang harus dipegang, diayun gagangnya untuk memukul paku, dan
bahwa biasanya dipukul beberapa kali. Tahu akan hal ini, ia menyesuaikan tugas
barunya ke dalam pengetahuan yang ia miliki.
b.
Akomodasi, terjadi bila anak menyesuaikan pengetahuan mereka agar cocok dengan
informasi dan pengalaman baru. Misalnya palu adalah benda berat, maka ia
memegangnya terlalu ke atas, ia mengayun terlalu keras dan pakunya bengkok,
maka ia menyesuaikan tekanan pukulannya, ini menunjukkan kemampuanya mengubah
pengetahuannya.
Piaget juga percaya bahwa kita
melalui empat tahap dalam memahami dunia yakni:
1. Tahapan Sensorimotor
Tahap
ini mulai dari 0-2 tahun, anak mulai membangun pemahaman mengenai dunia ini
dengan mengkoordinasikan pengalaman sensoris (pengilihatan dan pendengaran)
dengan tindakan fisik dan motorik. Bayi memiliki lebih dari sekedar pola-pola
refleksif untuk dapat melakukan sesuatu. Pada akhir tahap ini anak umur 2 tahun
memiliki pola sensorimotor kompleks dan mulai menggunakan simbol-simbol
sederhana.
2. Tahapan Praoperasional
Tahap
ini sekitar umur 2-7 tahun, anak mulai menjelaskan dunia dengan kata-kata,
gambar, dan lukisan. Namun anak prasekolah masih kurang mampu melakukan operasi
(tindakan mental yang terinternalisasi) yang memungkinkan anak melakukan secara
mental apa yang sebelumnya hanya dilakukan secara fisik. Akan tetapi beberapa
hambatan pemikiran anak pada tahap ini adalah egosentrisme dan sentralisasi.
Sentralisasi
adalah pemusatan perhatian pada satu karakteristik dan pengabaian karakteristik
lain. Misalnya dalam membandingkan isi dari dua buah gelas berisi air yang
bentuknya berbeda. Operasi adalah tindakan mental dua arah (reversible).
Penambahan dan pengurangan jumlah secara mental adalah contoh operasi.
Pemikiran-pemikiran praoperasional adalah awal kemampuan menyusun ulang dalam
pemikiran hal-hal yang telah dibentuk dalam perilaku.
Anak
pada usia ini menggunakan desain-desain acak untuk menggambarkan orang, rumah,
dll, mereka mulai menggunakan bahasa dan melakukan permainan “pura-pura”
(permainan seolah menganggap dirinya sebagai seseorang sesuatu). Namun, meski
anak-anak membuat kemajuan yang unik dalam sub tahapan ini, kemajuan pemikiran
mereka masih memiliki beberapa batasan-batasan yang penting, dua diantaranya
adalah egosentrisme dan animisme.
a. Egosentrisme: merupakan
ketidakmampuan membedakan perspektif diri sendiri dan orang lain. Misalnya
dalam percakapan dengan cara mengangguk.
b. Animisme: merupakan keyakinan bahwa
objek-objek yang tidak bergerak memiliki kehidupan dan kemampuan bertindak.
3. Tahapan Operasional Kongkret
Tahap
ini berkisar 7-11 tahun, anak dapat melakukan operasi dan penalaran logis
menggantikan pikiran intuitif selama penalaran dapat diterapkan pada contoh
kasus dan kongkret, memahami konsep percakapan, mengorganisasikan obyek menjadi
kelas-kelas hierarki (klasifikasi) dan menempatkan obyek-obyek dalam urutan
yang teratur (serialisasi).
4. Tahapan Operasional Formal
Tahap
ini berkisar 11-15 tahun, individu lebih melampaui pengalaman kongkret dan
berpikir abstrak, idealis dan lebih logis. Berpikir lebih abstrak, remaja
menciptakan bayangan situasi ideal, berpikir mengenai bagaimana orang tua ideal
seharusnya dan membandingkan orang tua mereka dengan standar ideal ini. Mereka
mulai mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan masa depan dan takjub mereka dapat
menjadi apa saja. Dalam memecahkan masalah, pemikir operasional formal lebih
sistematis, mengembangkan hipotesis mengenai mengapa sesuatu terjadi dengan
cara tertentu, kemudian menguji hipotesis ini dengan cara deduktif.
Untuk penerapan teori tersebut di
dalam pendidikan perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1. Lingkungan pendidikan sebaiknya
menyediakan berbagai kegiatan yang mendorong perkembangan kognitif anak.
2. Perlu interaksi anak dengan teman
sebayanya seperti melakukan eksplorasi, inquiri dan discovery. Untuk memperkaya
pengalaman empirik, logika matematika dan sosial anak.
3. Mempertimbangkan strategi mengajar
yang menghadapkan anak pada peristiwa yang mengandung konflik dan
ketidakpastian, sehingga proses asimilasi, akomodasi dan equilibrium dapat
terjadi.
4. Proses belajar berdasarkan
tugas-tugas belajar yang sesuai dengan perkembangan kognitif anak sehingga anak
dapat berpartisipasi aktif melalui berbagai kegiatan eksplorasi, inquiri dan
discovery.
TEORI
VIGOTSKY
Vigotsky menjabarkan 3 konsep pokok dalam perkembangan
kognitif, yaitu:
·
Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan
diinterpretasikan secara developmental (dengan cara memeriksa asal-usul dan
transformasinya dari bentuk awal ke bentuk selanjutnya).
·
Kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa dan bentuk
diskursus yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan
mentransormasi aktivitas mental.
·
Kemampuan kognitif
berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.
Vigotsky juga mengemukakan beberapa
ide mengenai zone of proximal
developmental (ZPD) yaitu serangkaian tugas sulit yang dikuasai anak
secara sendirian, tetapi dapat dipelajari dengan bantuan orang dewasa atau yang
lebih mampu.
Perbedaan Teori Kognitif Piaget dan
Vygotsky
Membicarakan
psikologi pendidikan dan aspek-aspek yang dipelajari di dalamnya memang sangat
menarik. Salah satunya adalah bila kita mencoba mendalami tentang teori Piaget dan teori Vygotsky. Berkaitan dengan
perkembangan kognitif, dua ahli terkenal di bidang ini, yaitu Piaget dan
Vygotsky mempunyai perbedaan pendapat tentang bagaimana egosentris dan bicara terhadap
diri sendiri pada anak. Tabel di bawah ini menunjukkan bagaimana teori belajar
yang dikemukakan oleh Piaget berbeda dengan teori yang dikemukakan oleh
Vygotsky, berkaitan dengan perkembangan kognitif. Perbedaan kedua teori
mencakup hal-hal yang berkaitan dengan egosentris dan bicara sendiri pada
anak-anak.
Tabel Perbedaan Teori Piaget dan teori
Vygotsky tentang Egosentris dan Bicara Sendiri (Self Talk)
|
Pembeda
|
Teori Piaget
|
Teori Vygotsky
|
|
Signifikansi Perkembangan
|
Merupakan ketidakmampuan untuk mengambil perspektif
orang lain dan terlibat dalam komunikasi timbal balik.
|
Merupakan pemikiran eksternal, fungsinya adalah untuk
berkomunikasi dengan diri sendiri dengan tujuan untuk bimbingan diri
sendiri dan pengarahan diri sendiri.
|
|
Proses Perkembangan
|
Berkurang dengan bertambahnya usia.
|
Bertambah pada usia yang lebih muda dan kemudian secara
bertahap lenyap secara audial sehingga menjadi pemikiran verbal internal.
|
|
Hubungan dengan Bicara Sosial
|
Negatif; anak yang kurang bersosialisasi dan matang
secara kognitif menggunakan lebih banyak bicara egosentris.
|
Positif, bicara sendiri mengembangkan kemampuan sosial
anak dengan orang lain.
|
PERKEMBANGAN
BAHASA
APAKAH BAHASA ?
Istilah bahasa memiliki arti suatu
kode atau system symbol dan urutan kata – kata yang diterima secara konvesional
untuk menyampaikan konsep-konsep atau ide-ide dan berkomunikasi melalui
penggunaan symbol-simbol yang disepakati dan kombinasi symbol yang diatur oleh
ketentuan yang ada (Conny.R: 1999). Dari pengertian bahasa menurut para ahli
tersebut seseorang mengekspresikan bahasa tidak hanya dengan ucapan tetapi juga
menggunakan symbol-simbol atau kode sebagai isyarat dalam berkomunikasi. Bahasa
merupakan alat komunikasi lisan yang dilakukan individu dalam berkomunikasi
dengan orang lain.
PENGARUH
FAKTOR BIOLOGIS / LINGKUNGAN
Seperti yang diketahui selama ini
perkembangan bahasa tidak lepas dari pengaruh faktor biologis dan lingkungan
Kedua faktor tersebut memiliki pengaruh penting dalam perkembangan bahasa anak.
Faktor biologis meliputi evolusi biologis, ikatan biologis, peranan otak, serta
periode krisis belajar bahasa anak. Evolusi biologis merupakan perkembangan
individu sejak sebelum dilahirkan . Menurut perkiraan para ahli manusia
mendapat bahasa bervariasi selama beribu-ribu tahun dari sekitar 20.000 sampai
70.000 tahun yang lalu. Kemudian akhirnya bahasa adalah suatu pemerolehan yang
selalu baru terjadi. Ikatan biologis dalam belajar bahasa memberikan pengaruh
pada suatu waktu dan cara tertentu pula. Sejak lahir manusia memiliki alat
pemerolehan bahasa (Language Acquisition Device = LAD) yaitu suatu kemampuan
dalam mendeteksi katagori bahasa tertentu yang mendasari semua bahasa manusia.
Berdasarkan penelitian Cazzaniaga dan Sperry bahwa proses bahasa itu dikrontol
oleh belahan otak bagian kiri. Jika otak bagian kiri mengalami gangguan maka
akan terjadi penghambatan dalam perkembangan bahasa. Selain ketiga faktor
biologis tersebut periode krisis belajar bahasa memiliki pengaruh dalam
perkembangan bahasa. Menurut pengamatan para ahli periode krisis belajar anak
sekitar berumur 12 tahun. Pada umur tersebut anak sudah mulai aktif dalam
berbahasa, berbeda dengan anak yang masih batita yang hanya mampu mengucapkan
maksimal 3-5 kata.
Perkembangan bahasa tidak lepas dari
pengaruh lingkungan tempat individu bertempat tinggal. Kondisi masyarakat serta
reaksi sosial individu pada lingkungannya berpengaruh terhadap perkembangan
bahasa anak. Seorang anak yang tinggal bersama ibunya yang penuh kasih sayang
dan bertutur kata halus akan berbeda perkembangan bahasanya dengan anak yang
tinggal bersama orang tua yang selalu melontarkan kata-kata kasar kepadanya.
Selain faktor lingkungan dan
biologis pada individu dalam perkembangan perkembangan bahasa, kognisi seorang
anak juga memiliki peran dalam perkembangannya. Kognisi merupakan penalaran
seorang individu dalam menaggapi suatu hal. Misalnya seorang anak mendengar
ucapan “roti makan Ani” si anak tahu bahwa yang didengarnya itu merupakan
struktur bahasa yang salah, seharusnya “Ani makan roti” Peran kognisi dalam
perkembangan bahasa anak adalah memberikan pengetahuan yang konkret dalam
penggunaan bahasa yang benar.
PERKEMBANGAN BAHASA
Bahasa berkembang tidak langsung
sekaligus dalam satu proses melainkan melalui beberapa tahap, mulai dari bayi
yang hanya bisa menangis sampai orang dewasa yang telah mampu berbicara di
khalayak umum dengan struktur bahasa yang baik dan benar. Para ahli
mengklasifikasikan ada 3 tahap dalam perkembangan bahasa, yaitu: perkembangan
bahasa usia bayi, anak usia dini, dan usia sekpolah. Dalam perkembangan bahasa
anak usia bayi masih bersifat holoprase hypothese yang artinya
keterampilan kognitif atau linguistik bayi terbatas sehingga bayi memiliki
kemampuan berbahasa sesuai dengan kondisi fisiknya. Meningkat pada usia dini,
anak sudah mulai mampu merangkai beberapa kata menjadi sebuah kalimat sehingga
pada usia sekolah anak mampu mengucapkan kalimat-kalimat sesuai dengan keadaan
atau materi . Namun, tahap perkembangan individu dalam prosesnya tidak semua
sama antara individu yang satu dengan yang lain tergantung dari pengaruh
faktor-faktor perkembangan bahasa.
Kita sebagai calon pendidik sudah
harus belajar mengetahui perkembangan bahasa masing-masing anak. Dalam proses
kegiatan belajar mengajar nanti seorang guru dituntut untuk menjadi teladan
dalam penggunaan bahasa di lingkungan sekolah sehingga ucapan guru yang baik
atau buruk akan selalu diperhatikan oleh peserta didik. Komunikasi penyampaian
materi pembelajaran antara siswa dan guru harus bersifat comfortable agar siswa
nyaman dalam menerima materi dan menangkapnya dalam memory. Dengan demikian
guru SD diharapkan sekali menggunakan bahasa anak daripada bahasa orang dewasa.
KASUS NYATA MENGENAI PERKEMBANGAN
KOGNITIF DAN BAHASA DALAM BIDANG MATEMATIKA
Berikut akan dipaparkan contoh “kasus nyata” keunikan siswa dalam
proses belajar, yang cerita ini saya kutip dari buku yang ditulis oleh Munif
Chatib (2009), “Sekolahnya Manusia”. Kasus berikut merupakan contoh seorang
anak yang belajar matematika dengan pendekatan kecerdasan spasial yang
dimilikinya.
“ Latif adalah siswa kelas 2. Latif bermasalah dalam belajar. Masalah
yang dia alami sangat kompleks karena kombinasi berbagai masalah. Pertama, dia
tidak pernah masuk kelas. Oleh karena itu, banyak sekali materi yang tidak
pernah ia ikuti. Kedua, Latif tidak pernah membawa buku dan alat tulis. Latif
sama sekali tidak termotivasi untuk belajar, akibatnya dia tidak bisa mengenal
angka dan penjumlahan “.
Analisis kasus diatas dan pemecahan masalahnya :
Ternyata, keluarga menjadi
latar belakang terbesar masalah Latif. Sang ibu telah lama bekerja di luar
negeri, sementara ayahnya memiliki pekerjaan tidak tetap dan sering ke luar
kota. Kondisi ini membuat sang ayah sama sekali tidak memberikan perhatian
kepada anaknya, khususnya soal pendidikan. Latif tinggal bersama neneknya yang
sama sekali tak peduli urusan sekolah sang cucu. Dapat disimpulkan, masalah
Latif bersumber pada
kurang perhatian dan kurang kasih sayang orangtuanya.
Namun, di balik masalah
tersebut, tersimpan potensi yang luar biasa. Latif sangat suka menggambar dan
mewarnai (kecerdasan spasial-visual). Guru matematika di kelas Latif punya ide
untuk mengajarkan penjumlahan lewat pintu kecerdasan Latif. Guru tersebut memberikan
kesempatan kepada Latif untuk belajar penjumlahan dengan cara melukis
angka-angka penjumlahan pada kertas folio yang disambung berjejer di dinding
kelas. Betapa antusiasnya Latif “menggambar” di dinding tersebut. Inilah sebuah
proses gaya mengajar yang berhasil masuk dalam dunia siswa.
Sekarang, Latif termotivasi
untuk sekolah dan sangat senang dengan pelajaran matematika.Hasilnya dia mampu
menguasai materi penjumlahan yang dahulu dibencinya.
Belajar dari cerita “kasus” Latif di atas, maka menurut hemat kami,
(misalkan) untuk belajar matematika, setiap siswa harus didekati melalui
kecenderungan kecerdasan yang dimilikinya.Akibatnya, jika teori Multiple Intelligences
ini benar-benar diterapkan dalam strategi pembelajaran, maka pendekatan
pembelajaran yang digunakan oleh guru merupakan pendekatan secara personal. Hal
ini, tentunya akan membawa konsekuensi bahwa seorang guru harus “sabar” untuk
bisa membuat bagaimana siswa dapat menemukan kegairahannya dalam belajar, dan
pembelajaran tidak hanya ditargetkan untuk “menghabiskan” materi dalam
kurikulum.
Dengan menerapkan strategi pemnbelajaran (matematika), maka guru
harus mengetahui, bahwa akan ada beragam profil gaya belajar siswa, yaitu:
(a) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Linguistik.
(b) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Matematis.
(c) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Visual-Spasial.
(d) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Musikal.
(e) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Kinestetis.
(f) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Interpersonal.
(g) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Intrapersonal.
(h) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Naturalis.
(i) Siswa yang belajar matematika dengan menggunakan kecerdasan Eksistensial.
PENUTUP
Kesimpulan
Perkembangan kognitif pada peserta
didik merupakan suatu pembahasan yang cukup penting bagi pengajar maupun orang
tua. Perkembangan kognitif pada anak merupakan kemampuan anak untuk berpikir
lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah yang
termasuk dalam proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu
mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Dalam memahami perkembangan
kognitif, kita harus mengetahui proses perkembangan kognitif tersebut.
Perkembangan kognitif dapat dikaji dengan menggunakan dua cara yaitu dengan
pendekatan tentang tahapan-tahapan perkembangan kognitif yang dijelaskan oleh
Piaget dan dengan caran system pemprosesan informasi. Pada teori pemprosesan
informasi lebih menekankan bagaimana proses-proses terjadinya perkembangan
kognitif, tetapi pada teori Piaget membagi proses tersebut ke dalam berbagai
tahapan.
Bahasa merupakan alat komunikasi
lisan yang dilakukan individu dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Seperti yang diketahui selama ini perkembangan bahasa tidak lepas
dari pengaruh faktor biologis dan lingkungan Kedua faktor tersebut memiliki
pengaruh penting dalam perkembangan bahasa anak. Faktor biologis meliputi
evolusi biologis, ikatan biologis, peranan otak, serta periode krisis belajar
bahasa anak.
DAFTAR PUSTAKA